
Sebagai anak dari seorang PNS, saya sempat mengalami apa yang disebut dengan “hidup nomaden”, berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Terhitung sudah lima pulau besar yang saya tinggali: Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Dari Kota Sabang sampai dengan Merauke, menjadi saksi pengembaraan keluarga kami. Berbagai pengalaman dan perenungan saya dapatkan dari masing-masing daerah.
Tak ayal, ketika hidup sudah mulai menetap, teman-teman menyebut saya dengan anak seribu pulau. Namun, justru saya suka dengan julukan itu. Julukan yang menurut saya menunjukkan banyak cerita di baliknya tentang Indonesia. Mungkin Anda pernah tahu satu judul acara televisi tersebut, “Anak Seribu Pulau”, yang memberikan banyak pengetahuan kepada Anda atau mungkin anak-anak Anda, tentang Indonesia, tentang kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia.
Kayakah Indonesia?
Mungkin ini pertanyaan klise yang sangat telak menohok Pemerintah saat ini, sehingga di Departemen Keuangan dibentuk Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Ditjen ini bertugas untuk menginventarisir dan nantinya mengelola kekayaan negara Indonesia. Saat ini, memang bangsa Indonesia belum tahu apakah dirinya benar-benar kaya atau justru sebaliknya.
Ironi kah?
Tidak juga. Mengingat negara Indonesia adalah negara yang sangat luas secara geografis, maka kekayaannya bertebaran di mana-mana, sehingga membutuhkan waktu lebih dari 60 tahun untuk menginventarisirnya.

Anak Seribu Pulau
Banyak hal yang saya syukuri dari hidup yang berpindah-pindah itu. Banyak teman di seluruh penjuru Indonesia, mengenal budaya daerah yang diajarkan lewat pelajaran Muatan Lokal, berkesempatan untuk memainkan alat musik Sasando, banyak objek wisata yang terkunjugi, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang mengesankan.
Wamena
Ini adalah kota pertama di luar Pulau Jawa yang saya dan keluarga singgahi selama kurang lebih 2 tahun, tepatnya di Papua. Memang waktu itu saya masih anak TK, sekitar tahun 1989. Namun Ayah saya memperlihatkan album foto yang berisi foto-foto kami sekeluarga selama di kota ini. Adik saya lahir di kota ini, kota yang pernah turun hujan salju di dalamnya. Kota ini adalah kota yang terletak di Lembah Baliem dan dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya, dan oleh sebab itulah suhunya sangat dingin.

Aceh
Di kota ini, saya menempuh kelas 6 SD dan 1 SMP, sekitar tahun 1996-1997. Saat itu yang namanya DOM sudah tidak ada lagi, sangat tenteram, damai, dan harga-harga saat itu masih murah. Saya ingat sekali, harga mie bungkus, saat itu hanya Rp 300,-.
Saat di Aceh inilah, saya berkesempatan mengunjungi Sabang dan Pulau Weh, yang menjadi 0 km Indonesia. Saya sempat berfoto di 0 km itu, sayang fotonya sekarang ada di rumah Semarang. Pulau Weh ini dikelilingi oleh 4 pulau, di antara yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Rubiah, yaitu pulau tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya. Kita bisa memancing ikan di sana, dan langsung membakar ikan hasil tangkapan di situ juga. Dan lagi-lagi, dokumen fotonya ada di rumah Semarang.

Pulau Weh

Pulau Rubiah
Kupang
Meski daerahnya tidak sehijau Aceh ataupun daerah di Pulau Jawa, namun daerah ini tetap memiliki kekayaan alam, baik flora maupun fauna. Jika kita menuju Kupang dengan jalur laut, maka selepas pelabuhan, kita akan disuguhi dengan pemandangan coklat di kanan dan kiri jalan, penuh dengan semak belukar yang coklat dan tanah yang kering. Kupang yang berada di Nusa Tenggara ini, khas dengan pohon lontar-nya, yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Kupang. Misalnya saja, daunnya untuk alat musik Sasando, dan saya sudah berkesempatan memainkan alat musik ini. Ada nira yang keluar, biasanya diolah menjadi gula dan juga arak. Ada juga kayu cendana yang harum semerbak, dibuat berbagai ukiran kayu.
Di Kupang inilah, saya berkesempatan mengunjungi Ende di Pulau Flores. Ende dengan Danau Kelimutunya, atau danau tiga warna, sungguh indah, pemandangan yang luar biasa, meski untuk mencapainya tidaklah mudah, harus mendaki beratus anak tangga. Di Ende ini pula ada tempat pengasingan Bung Karno, yang ketika saya mencoba sholat di tempat sholat Bung Karno di pengasingan itu, ada bau semerbak dari tempat sujudnya. Wallahu a’lam, mungkin sudah diberi parfum oleh penjaga museumnya.
Indonesia sungguh indah.
Kalimat itu yang bisa tersampaikan, terlepas dari segala centhang prenangnya bangsa ini, Indonesia adalah negara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Betapa banyaknya objek wisata alam yang Indonesia miliki, menampilkan berbagai corak ragam keindahan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di hiruk pikuknya kota besar di Indonesia. Sabang, Ujung kulon, Bunaken, Kuta Bali, Bantimurung, Malino, Pantai Panjang, dan banyak lagi.
Keindahan itu tak kan hilang meski orang-orang berebut kursi kekuasaan politik, meski para kriminal beraksi, meski para koruptor memperkaya diri mereka, meski jalanan macet beserta asap tebal yang melayang menutupi langit kota. Semua itu tergantikan dengan sejuknya alam Indonesia. Sawah terhampar menghijau, air terjun mengucur deras bergemuruh memecah sunyinya hutan, kicau burung terdengar di langit biru.

